Laman

Rabu, 31 Desember 2025

2025 — "I’m Done With This Year"

Upset. Mad. Sad. Crazy. Hopeless. 2025 has been the craziest year ever. Kegilaan dimulai dari drama di kantor. Yang menurutku, itu adalah settingan "panggung sandiwara" yang sudah di atur sedemikian rupa. 

Bagaimana bisa menyarankan jajak pendapat terkait pemilihan atasan baru. Yang mana jajak pendapat ini dijadikan sebagai voting. 

Semua informasi bocor begitu saja kepada orang yang menjadi tokoh utama. Pelaku? tentu saja tidak disebutkan "anonim" hingga saat ini. 

Se-modern apapun, ga mungkin hal itu bocor jika ada penyadap, berarti ruangan meeting itu tidak layak di jual ke customer. 

Berarti, ada pelaku yang menyebarkannya. 

Tokoh utama menjabat jadi lead dan tentunya akan membumi hanguskan para tokoh pendukung. 

2 bulan diberikan sebagai waktu untuk melakukan evaluasi kinerja yang sebenarnya hanya sebagai jalan mulus saja untuk menaklukan para pengkhianat. Julukan pengkhianat itu tentunya ditujukan kepada saya dan kami.

Di ruangan itu saya dihakimi, dengan situasi kantung kemih yang hampir full. Kilat menyambar di luar jendela dan langit gelap gulita. 

Kata-kata itu teringat selama sepekan. Masuk kedalam memori. 

Penghakiman itu di awali dengan pertanyaan, masih betah kah saya bekerja di perusahaan tersebut? 

Dia mengetahui bahwa selama ini saya melakukan interview di perusahaan lain saat di jam kantor. 

Dengan meledek bahwa selama itu pula saya tidak pernah berhasil melewatinya, berbeda dengan rekan saya lain yang resign setelah mendapatkan pekerjaan. Saya ingat betul wajah mencemoohnya.

Selanjutnya, dia mulai bertanya masih ingatkah saya terkait kejadian "Voting" itu di bulan Juli?

Saya pikir, pemanggilan ke ruangan ini hanya sebatas membahas evaluasi kinerja 2 bulan terakhir. Ternyata yang lebih utama dibahas adalah kasus tersebut.

Dia menambahkan mengetahui dan mengingat siapa-siapa saja yang menerima dan menolak dirinya menjabat. Tokoh utama berdalih, bahwa dirinya sebetulnya belum menerima terkait SK jabatan dari Manajemen.

Sang Tokoh merasa kecewa terhadap informasi bahwa saya menjadi salah satu orang yang menolaknya. Dengan menabahkan bumbu, bahwa orang lain yang ada di dalam voting tersebut ada yang sudah dengan gentle meminta maaf kepadanya.

Terbesit pikiran, kenapa harus meminta maaf? toh, jajak pendapat ini juga tidak akan didengar dan menjadi tolak ukur si Tokoh bisa melenggang di jabatan barunya.

Dilanjutkan dengan pernyataan, bahwa perusahaan sudah tidak mau memperpanjang masa kerja saya. Tidak ada negosiasi dan pintu sudah ditutup rapat-rapat. Saya hanya diberikan waktu 3 hari untuk berpikir. Untuk memutuskan pilihan yang diberikan olehnya.

Seakan pilihan yang dibawa oleh Tokoh Utama kita ini adalah sebuah kebaikan dan keberkahan yang hanya bisa saya terima. 

Percakapan tersebut berlangsung 1 jam. Yang saya ingat saat ini hanya beberapa hal saja, karena selebihnya menurut saya adalah hal yang tidak masuk akal. Terutama saat sang Tokoh makan dan minum di depan saya selama percakapan berlangsung.

Dimana saat ini pertaruhan hidup seseorang, mungkin terdengar dramatisir. Tapi, jika situasi itu terjadi pada seorang kepala keluarga yang hanya seorang diri mencari nafkah dengan usia yang sudah tidak muda lagi. Itu adalah sebagai tindakan percobaan pembunuhan.

Rasa marah, kecewa di khianati, dan putus asa menyelimuti 1 jam tersebut. Jika memang sang Tokoh layak di hormati, setidaknya dia tidak melakukan hal tersebut saat dalam percakapan serius yang menyangkut hajat hidup seseorang.

Setiap mendengar dialognya, terasa keangkuhan sang Tokoh yang sedang mendongeng. 

Di akhir percakapan, saya hanya bisa bersikap sopan dengan mengucapkan salam ketika menutup pintu.

Saya masih ingat, setelah kejadian itu masih melakukan tanggung jawab pekerjaan sampai pulang dan hari berikutnya. Bahkan setelah tau leader saya mengetahui situasinya dan tidak bisa berbuat apa-apa saya hanya berpikir memang dialah salah satunya.

Saya juga merasa malu karena tidak memberikan apapun kepada rekan saya yang mengalami hal serupa 1 bulan sebelumnya.

Saya hanya bisa memberikan dukungan lewat kata-kata di hari setelah LWD. Tidak bisa memberikan bantuan bermanfaat apapun. Namun, saat kejadian yang sama terjadi, saya hanya bisa meminta bantuan terhadapnya.

Tidak ada orang lain yang bisa saya ceritakan lagi di kantor. Tidak ada yang bisa saya percayai untuk situasi seperti ini. 

Saya ceritakan semuanya dengan keluarga dan memutuskan mengambil hak saya. Ya, betul hak pesangon saya sebagai karyawan yang bekerja lebih dari 5 tahun. Apapun konsekuensi yang dikatakan oleh mulut sang Tokoh, saya nekat mengambil hak saya full. 

Malam itu, saya tidak bisa merasa tenang. Otak saya dipaksa memikirkan skenario yang akan terjadi selanjutnya. Tidak bisa tidur sampai pagi. Esoknya, saya bangun lebih awal dan berangkat ke kantor lebih pagi sambil memikirkan strategi apa saja yang perlu saya lakukan selanjutnya. 

Pagi itu saya memaksakan diri untuk bisa sarapan, meski perut menolak. Nafas terasa berat, saya paksakan untuk makan dan mempersiapkan diri untuk mengirimkan email keputusan dan permintaan draft perjanjian bersama. Untuk bisa saya ajukan review kepada pengacara rekan saya. 

Hari itu saya ngobrol sebentar dengan leader untuk serah terima pekerjaan. Anehnya, selama serah terima pekerjaan tersebut. Ybs ini sempat-sempatnya main sosmed. Dengan kelakuannya yang seperti ini pun, saya mempercepat pembicaraan dan mengakhiri sesi tersebut lebih awal. Dan ybs sempat-sempatnya bertanya ada yang perlu disampaikan? Memangnya apa yang perlu disampaikan dalam situasi saya yang seperti ini? Permintaan maafkah? sembah sujud kah?

Setelah itu saya sudah mulai mencicil barang-barang di meja untuk saya bawa pulang. Sore harinya ketika saya masih mempertanyakan hak saya, saya diminta ke ruangan sang Tokoh untuk segera tanda-tangani surat perjanjian tersebut. 

Bahkan saya sempat memberikan pendapat bahwa ada salah penulisan alamat di dalam surat perjanjian tersebut namun, hanya pandangan sinis dan remeh yang saya dapatkan. Setelah keluar ruangan saya segera berbenah melanjutkan packing barang yang akan saya bawa. 

Bahkan disituasi tersebut, tidak ada yang bertanya apa-apa. Rekan kerja yang lebih lama bersama dengan saya pun tidak melihat dan bertanya sedikitpun. Baik langsung ataupun melalui chat.

Jadi, saya pikir hubungan rekanan tersebut sudah selesai. Benar-benar selesai.

Di hari ke 3 saya sudah merasa sedikit lebih tenang, ada dukungan yang saya dapat dari beberapa orang. Sehingga, saya datang lebih siang dari biasanyanya. Sarapan meski rasanya tetap sulit menelan makanan. Membereskan barang-barang lainnya yang terisa. 

Bersih-bersih akun pribadi dari laptop kantor. Weekly meeting terakhir yang masih terasa aneh dan canggung bagi saya. Karena, saya tetap diminta untuk memberikan sepatah dua patah kata. Namun, saya menolak. 

Sore hari datang, acara foto-foto seperti biasa saat orang resign. Aku menangis sejadi-jadinya hanya dipelukan seorang rekan yang menurutku dia juga tidak layak berlama-lama di tempat tersebut. 

Semua selesai, 5 tahun lebih bekerja di sana. Mendapatkan ilmu dari yang dapat menumbuhkan sampai yang dapat menyakitkan hati. 

Di usia 30 tahunku aku Jobless. Hasil kedzoliman segelintir manusia yang jika dipikir, tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan Tuhan Sang Pemilik Seluruh Alam Raya. 

Meski tidak baik mengutuk orang, namun saya tetap mempercayai sistem tabur tuai di dunia. Karma buruk akan selalu menyertai orang-orang yang dzolim. 

Menutup tahun 2025 ini, aku mau mengucapkan terima kasih kepada Tuhan, kepada orang tua, kepada kakak, dan kepada diriku. Meski di sini urutannya diriku terakhir, tapi aku selalu menjadi prioritas utama. Terima kasih diriku sudah berjuang dan tangguh menghadapi semua masalah yang terjadi. Kamu selama ini tumbuh untuk menjadi pribadi yang lebih baik meski pertumbuhannya itu tidak sepesat orang lain. Namun, percayalah progress itu ada dan nyata.

Terima kasih juga kepada para sahabat yang sudah memberikan solusi, mendengarkan kegetiran hati, kemarahan yang terpendam dari tubuh ini. Semoga kalian juga mendapat kerkahan hidup.

Tuhan rahmatkanlah keluarga, diri dan para sahabat tubuh yang sehat, berkah hidup, dan rezeki yang berlimpah. 

Semoga 2026 menjadi tahun yang sangat baik buat saya dan kami. Semoga 2026 dapat memberikan saya keberkahan hidup, pekerjaan yang baik, rezeki berlimpah, tubuh dan jiwa yang sehat. 

TERIMA KASIH 2025~

Hello 2026, I’m coming


Tidak ada komentar:

Posting Komentar